Lensa Baru.Com,Piru Seram Bagian Barat-Satuan Polisi Perairan dan Udara (Sat Polairud) Polres Seram Bagian Barat (SBB) bersama unsur masyarakat berhasil menemukan tiga nelayan asal Dusun Uhua, Desa Buano Utara, Kecamatan Huamual Belakang, yang sebelumnya dilaporkan hilang saat melaut. Ketiga nelayan tersebut ditemukan dalam keadaan selamat pada Senin (26/10/2026) malam.
Operasi pencarian dipimpin oleh Kasat Polairud Polres SBB, IPTU Piter N. Souhoka, bersama personel Sat Polairud dan unsur masyarakat. Ketiga korban ditemukan pada pukul 22.20 WIT di rompong nelayan milik masyarakat Dusun Lirang, dengan jarak sekitar 20,18 mil laut (NM) dari lokasi yang menjadi acuan pencarian.
Kapolres SBB,AKBP Refindo Pradikta Rulando, S.I.K., M.A.P., C.L.M.A menyampaikan apresiasi kepada personel Sat Polairud dan masyarakat yang telah bekerja sama dalam proses pencarian hingga ketiga nelayan berhasil ditemukan.
“Keberhasilan ini merupakan hasil kerja sama dan kepedulian bersama dalam memberikan pertolongan kepada masyarakat yang mengalami musibah di laut. Kami mengapresiasi seluruh personel dan masyarakat yang telah membantu proses pencarian hingga ketiga korban ditemukan,” ujar Kapolres.
### MESIN LONG BOAT RUSAK, KORBAN HANYUT SELAMA DUA HARI
Berdasarkan informasi yang dihimpun, peristiwa tersebut bermula pada Sabtu (24/10/2026) sekitar pukul 08.00 WIT, ketika ketiga korban bertolak dari Dusun Pele Jaya, Kepulauan Manipa, menggunakan perahu jenis *body fiber* atau *long boat* yang dilengkapi satu unit mesin Yamaha berkekuatan 15 PK.
Dalam perjalanan, mesin perahu mengalami gangguan akibat kerusakan busi sehingga tidak dapat dihidupkan kembali. Kondisi tersebut menyebabkan perahu hanyut terbawa arus laut.
Situasi semakin sulit ketika kabut asap tebal menutupi pandangan, sehingga para korban tidak dapat melihat pulau-pulau di sekitarnya dan kehilangan orientasi arah selama kurang lebih dua hari.
Dalam kondisi tersebut, para korban akhirnya menemukan sebuah rompong nelayan dan mengikatkan perahunya di lokasi itu. Rompong tersebut diketahui milik nelayan dari Dusun Lirang.
Sat Polairud Polres SBB menerima informasi mengenai hilangnya ketiga nelayan pada Minggu (25/10/2026) sekitar pukul 15.00 WIT dan segera melakukan upaya pencarian.
Selanjutnya, pada Senin (26/10/2026) sekitar pukul 20.00 WIT, Kasat Polairud Polres SBB menerima informasi dari Ahmad Tamalene, warga Desa Buano Utara, mengenai dugaan lokasi terakhir keberadaan ketiga korban.
Menindaklanjuti informasi tersebut, tim gabungan segera bergerak menuju lokasi yang dimaksud. Setelah melakukan pencarian, pada pukul 22.20 WIT ketiga nelayan berhasil ditemukan di rompong milik masyarakat Dusun Lirang.
Tim kemudian melaksanakan evakuasi sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku.
Pada Selasa (27/10/2026) pukul 00.16 WIT, tim gabungan tiba dan merapat di Dusun Uhua. Ketiga korban selanjutnya diserahkan kepada pihak keluarga, sekaligus menandai berakhirnya operasi pencarian dan pertolongan (SAR).
Adapun ketiga korban tersebut adalah Said Ninilouw (56), Ruzilang Ninilouw (57), dan Adian Tuhuteru (13). Ketiganya merupakan warga Desa Buano Utara dan sekitarnya yang berprofesi sebagai petani atau nelayan, sedangkan korban termuda masih berstatus pelajar tingkat sekolah dasar.
### KAPOLRES SBB INGATKAN NELAYAN UTAMAKAN KESELAMATAN SAAT MELAUT
Menyikapi kejadian tersebut, Kapolres SBB mengingatkan seluruh masyarakat, khususnya nelayan tradisional, agar selalu mengutamakan keselamatan ketika melaut untuk mencari nafkah.
Menurutnya, kondisi cuaca, arus laut, gangguan mesin, serta kabut asap yang menghalangi jarak pandang merupakan faktor yang dapat meningkatkan risiko kecelakaan dan menyebabkan nelayan kehilangan arah di laut.
Kapolres mengimbau para nelayan untuk memastikan kondisi mesin dan kelengkapan perahu sebelum berangkat, membawa alat komunikasi, serta melengkapi diri dengan perangkat navigasi seperti kompas dan GPS (*Global Positioning System*) guna membantu menentukan posisi dan arah perjalanan.
“Keselamatan harus menjadi prioritas utama. Sebelum melaut, pastikan mesin dan perlengkapan perahu dalam kondisi baik. Nelayan juga perlu membawa kompas, GPS, alat komunikasi, serta perlengkapan keselamatan lainnya. Apabila jarak pandang terganggu akibat kabut asap atau kondisi alam lainnya, jangan memaksakan perjalanan dan utamakan langkah-langkah yang dapat menjaga keselamatan,” tegas Kapolres.
Ia juga mengingatkan agar nelayan menyampaikan informasi mengenai tujuan dan perkiraan waktu kembali kepada keluarga sebelum berangkat, sehingga apabila terjadi keadaan darurat, proses pencarian dapat segera dilakukan.
Kapolres turut mengajak masyarakat pesisir untuk segera melaporkan kepada pihak kepolisian atau petugas terkait apabila mengetahui adanya nelayan yang mengalami keadaan darurat di laut.
Dengan ditemukannya ketiga nelayan tersebut dan diserahkannya mereka kepada pihak keluarga, operasi SAR dinyatakan selesai. Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bagi seluruh nelayan agar selalu mempersiapkan diri dengan baik dan mengutamakan keselamatan sebelum melakukan aktivitas di laut(Hp)









